Dalam stratifikasi sosial kita umumnya seseorang boleh mendapat predikat “Orang Kaya” karena memiliki harta yang melebihi kebutuhan pokok yang mendasarnya.
Pada umumnya kaum ini setalah berhasil mengatasi semua kebutuhan primer dan skundernya, dengan kekayaannya sangat memungkinkan sekali mulai membelanjakan hartanya pada kebutuhan yang sudah bukan lagi berurusan dengan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Pada level ini sangat berhak untuk mengalokasikan uangnya untuk belanja barang yang ada pada kelas mewah atau hal-hal untuk memenuhi eksistensi pada kelasnya sebagai kalangan mapan dan tidak ada yang keliru dengan hal ini.
Kaum kaya lebih memiliki banyak pilihan akan barang, jasa, layanan, jaminan hidup yang disesuaikan dengan kelas kemapanannya. Mulai dari rumah tinggal, kendaraan, pelayanan kesehatan, sekolah, tempat belanja, rekreasi dan masih banyak lagi. Yang jelas ini akan berbeda dengan kalangan yang berada dibawahnya. Persepsi saya akan hal ini tidak ada yang keliru.
Pada sebagian kalangan kaya secara sosial ada yang mulai mengalokasikan hartanya untuk kebutuhan dasar orang lain, dengan berderma atau membantu orang lain dengan apapun bentuknya.
Bahkan tidak sedikit jarang pula dengan kelebihan hartanya kalangan mapan ini ada membangunkan fasilitas untuk orang banyak.
Adapula kalangan mapan yang membuat lapangan pekerjaan dan kemitraan usaha, agar kelas yang ada di bawahnya dapat turut memenuhi kebutuhan dasarnya. Persepsi saya ini pun tidak ada yang keliru.
Ini pada level personal, secara prinsip akan berbeda antara kalangan kaya, menengah dan pra-sejahtera. Sekarang bagaimana konteks negara ???
Paradigma bahwa negeri ini kaya terlebih sumber daya alamnya yang melimpah yang merupakan resources untuk negeri ini menjadi mapan.
Dalam banyak lirik lagu, artikel, naskah akademik atau apapun itu sangat kerap sekali mendeskripsikan bahwa negeri kita ini kaya. Kelompok manapun yang berkesempatan berkuasa mengelola negeri ini semua mengklaim kita ini negeri yang memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa melimpahnya. Mulai dari hasil pertanian, perkebunan, hutan, lautan, mineral, dan semua yang ada dipermukaan bahkan di dalam perut buminya sekalipun kita ini negeri kaya raya.
Dan sekali lagi saya berpersepsi ini tidak ada yang keliru karena betul kita terlahir dan hidup bahkan meregangkan nyawapun itu di negeri yang kaya.
Tatkala banyak negara termasuk Indonesia disambangi kelompok virus yang lebih familiar kita menyebutnya Covid-19, akhirnya terungkap suatu keadaan bahwa selama ini terjadi “KEKELIRUAN PADA CARA MENGELOLA KEKAYAAN NEGERI INI”.
Coba perhatikan orang yang ada pada kelas mapan, secara finansial mereka tidak begitu terganggu dalam memenuhi kebutuhan pokok mendasarnya, selama pandemi Covid-19 ini melanda.
Dengan kekayaan dan tabungannya mereka bisa sukses tanpa nilai merah pada raport WFH dan Stay Home selama PSBB ini seperti yang dihimbaukan oleh pemerintah. Karena memang kalangan mapan ini punya cukup persediaan finansial untuk membekali keluarga selama berada di rumah. Pun juga kita bersama negera yang kaya ini seharusnya selamat dalam menjalani masa krisis ini.
Mohon maaf kalangan mapan ini hanya saya jadikan sebagai ilustrasi saja, yang menjadi sasaran tulisan ini sesungguhnya adalah PEMERINTAH PENGELOLA KEKAYAAN NEGERI INI. Apa masih layak kita ini sebagai negara yang memiliki modal kekayaan ???? Sedangkan untuk memenuhi rakyatnya dalam menjalani PSBB ini saja tidak mampu. Negara jelas sudah tidak mampu memberikan makan rakyatnya selama 14 hari, atau mungkin 1 bulan atau bisa jadi 2 bulan saja.
Dalam tulisan ini tidak mempermasalahkan mengenai bantuan dari pemerintah yang tidak maksimal sampai ke tenggorokan rakyatnya, karena memang dari awal sudah diduga pemerintah akan sulit untuk pemerintah melakukan hal ini.
Dan sedikitpun tidak menyalahkan Pemerintah dalam mengatasi Pandemi Covid-19 ini, justru saya sangat mengapresiasi langkah-langkah pemerintah dalam kasus ini.
Yang menjadi koreksi dan masukan adalah kepada pemerintah, dari kubu dan kelompok manapun yang berkesempatan mengelola kekayaan negeri ini.
Bahwa ADA YANG KELIRU dalam mengelola kekayaan negeri ini entah itu sistem atau yang menjalankan sistemnya. Dan indikasinya sederhana bagi saya, saat Pandemi Covid-19 ini pemerintah tidak siap MENTRAKTIR MAKAN rakyatnya.
Maka jadikan pandemi ini sebagai sebuah koreksi besar untuk pemerintah atas pengelolaan kekayaan negeri ini yang ternyata keliru. Sehingga dengan demikian di kemudian hari jika terjadi krisis semacam ini, rakyat tetap aman dan selamat dalam memenuhi kebutuhan pokok mendasarnya.
Ini karena rakyat berada dalam sebuah rumah mewah milik si kaya raya, yaitu INDONESIA RAYA.
*) Mohon maaf dalam berekspresi melalui tulisan ini saya tidak menggunakan data, tapi lebih kepada memberdayakan fungsi telinga dan mata. 🤫🤫🙏

Tidak ada komentar:
Posting Komentar