Selasa, 28 April 2020

SINERGITAS PEMUDA UNTUK SUKSESI SEBUAH KAMPUNG YANG BERKEMAJUAN


1946, Satu tahun pasca Kemerdekaan Republik Indonesia di proklamirkan oleh Presiden Soekarno dan Bung Hatta.
Genderang perang melawan penjajah masih belum usai ditabuh oleh bangsa ini. tahun ini merupakan masa yang syarat dengan gejolak khususnya di wilayah Cimahi dan Batujajar.

Untuk menyelamatkan diri dan keluarga pada situasi perang yang masih berkecambuk saat itu,  hampir semua penduduk di wilayah Cimahi dan Batujajar saat itu mengungsi ke wilayah Cililin, Gunung Halu, Majalaya dan beberapa tempat lainnya di selatan Bandung.

Kemudian memasuki tahun 1947 ketika suhu perang mulai menurun, wargapun perlahan mulai kembali dari pengungsian ke kampungnya masing-masing, dan beraktifitas kembali seperti semula.

Terkecuali kelompok pemuda yang tergabung dalam TKR dan laskar-laskar perjuangan.
Para pemuda ini memilih untuk tetap bertahan di basisnya menyokong kekuatan Batalyon 22 yang dipimpin oleh Kapten Sugiharto.

Kemudian saat itu kelompok pemuda membuat satu kekuatan dan mulai menyusup masuk ke Cimahi dengan tugas spionase, kemudian bergabung dengan pemuda lainnya di Cibeber yang kemudian membentuk Gerilya Kota.

Pemuda Gerilya Kota ini memiliki misi untuk menghimpun berbagai kekuatan seperti keuangan, obat-obatan, senjata dan amunisi untuk mensuport perjuangan bersama Batalyon 22 dalam melakukan perlawanan fisik terhadap penjajah belanda.

Maka mulailah kelompok pemuda ini bergerak ke beberapa kantong-kantong kekuatan yang dimotori oleh pemuda-pemuda di wilayah Cimahi.

Diantaranya dalam menghimpun obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya, kelompok ini menjalin kerjasama dengan pemuda Baros seperti Amir Sawer, Amir Hudaya, Rukman dan Umara yang saat itu bekerja di Militair Ziekenhuis (RS Dustira sekarang).

Kemudian dalam menggalang dana untuk kebutuhan perang kelompok pemuda ini menjalin relasi dengan guru-guru di wilayah Cimahi yang dikoordinir oleh Pak Sasmita Sonjaya (yang bermukim di Jl. Pabrik Aci dekat SDN Cimahi Mandiri 1 sekarang).  Yang melahirkan Gerakan Indonesia Muda yang anggotanya adalah para guru republiken, yang dengan sukarela mengumpulkan uang untuk diserahkan kepada  Pemuda Gerilya Kota ini.

Dalam mengumpulkan amunisi dan seragam menjalin kekuatan dengan para pegawai yang bekerja di tangsi-tangsi  NICA,  diantaranya  seperti dengan Pak Wagio yang tinggal di Gg. Lupen (Jln. H Haris-Baros sekarang).
Dan dari beliau inilah kelompok pemuda ini memperoleh amunisi dan seragam KNIL.

Perjuangan keras dan senyap dari para pemuda ini dalam mengumpulkan dana dan logistik ini selanjutnya diserahkan untuk modal perjuangan kepada Batalyon 22, yang dikirim melalui kurir menyebrang sungai Citarum ke arah Cipatik, kemudian ke Cililin ke markas Batalyon di Gunung Halu.

Sesuai perintah Panglima Divisi Siliwangi, Batalyon 22 sampai tahun 1949 tetap bergerilya di wilayah Cililin sekitarnya dengan resiko jika tertangkap akan diperlakukan sebagai perusuh/garong.

Operasi Gerilyawan Kota dari Cibeber ini bukan tanpa resiko, mereka harus bisa menyelinap masuk ke dalam pusat pasukan Belanda di tangsi Baros dengan cara2 spionase dan menggunakan jaringan informasi yg penuh risiko, hingga suatu hari Amir Sawer tertangkap oleh ID (Inlichting Dienst) dan di tawan di LOG Bandung (penjara Sukamiskin sekarang) kemudian dikirim ke Nusakambangan sampai penyerahan kedaulatan NKRI kembali pada tahun 1949.

Demikian penggalan cerita yang dimuat dalam buku Prahara Cimahi dan Long March Siliwangi yang saya kutip, dari Buku Prahara Cimahi karya SM Arief, dan Buku Long March Siliwangi karya Himawan Sutanto.

Yang menarik serta menjadi substansi pada literatur sederhana ini adalah pesan dan spirit untuk generasi muda yang disampaikan dalam buku ini. Bagaimana kekuatan yang dibangun oleh kelompok pemuda dalam mendukung pihak militer untuk memperjuangkan kemerdekaan NKRI.

Kemudian kemampuan kelompok pemuda dalam mengsinergikan potensi guru, pegawai rumah sakit bahkan orang kita yang bekerja di gudang senjata milik musuh sekalipun. Ini menjadi sebuah konsep kolaborasi potensi apik nan luar biasa dalam sebuah bingkai perjuangan dalam mempertahankan kedaulatan.

Ini sebuah karya dan kiprah nyata di masa kemerdekaan dari kelompok pemuda, yang mungkin salah satunya bisa jadi adalah orang tua kita.  

Konsep ini seyogyanya merupakan sebuah semangat  yang harus ditransformasikan kepada generasi era kini dan berikutnya dalam sebuah perjuangan yang sama di era yang berbeda. 

Sudah barang tentu jika melihat geliat semangat para pemuda di masa perjuangan,  ini harus menjadi sebuah model bagi kita dalam membangun negeri ini.

Model sinergitas dan semangat mengkolaborasikan berbagai kekuatan dan potensi generasi pemuda pada prolog diatas sangat memungkinkan untuk diaplikasikan di kampung yang kita cintai ini.

Ya....Haurngambang sebagai bagian kecil dari NKRI namun  memiliki potensi dan kekuatan besar untuk membangun wilayahnya menjadi lebih berkemajuan. 

Jika generasi generasi haurngambang era kini yang didominasi oleh generasi milenial mampu mengeksploitasi semua sumber daya kedaerahan diwilayahnya, kemudian mengeksplor dalam berbagai bentuk kegiatan bermanfaat dan strategis di wilayahnya, saya yakin ini akan menjadi kontribusi besar dalam membangun kampung kita ini.

Dan ini hanya bisa terealisasikan jika semua potensi lokal mampu bersinergi dan mensinergikan diri dengan potensi lainnya; mulai dari pemerintah daerah (desa, kecamatan dan kabupaten), tokoh pemuda, tokoh agama dan panutan masyarakat, entepreneur, pendidik dan akademisi, aktivis kemasyarakatan, TNI, ASN, pers dan kekuatan potensi lainnya.

Menjadi suatu harapan besar bagi mayoritas warga Haurngambang, “apakah mungkin Karang Taruna Gema Remaja 7 ini mampu menjadi wadah bagi pemuda dalam menggali dan meberdayakan potensi lokalnya menjadi sebuat aset besar untuk memajukan wilayahnya ???“.

Semoga ini menjadi spirit dan motivasi bagi rekan-rekan aktivis di Gema Remaja Unit 7 untuk merealisasikan harapan besarnya kampung ini.


--ER--

Sumber Literasi :
Buku Prahara Cimahi_SM Arief
Buku Long March Siliwangi_Himawan Sutanto

1 komentar:

  1. Tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan-kawan aktivis di Unit-7, semoga ini menjadi sebuah motivasi dan spirit untuk berbuat banyak hal dalam menggali potensi dilingkungannya dalam bingkai pengabdian terhadap masyarakat.

    BalasHapus

Contoh Modifikasi Job Deskripsi Karang Taruna Unit, Berorientasi pada Sasaran dan Potensi Lokal

Salam Pemberdayaan.... Pada tulisan kali ini saya memberikan salah satu contoh uraian tugas pada kepengurusan Karang Taruna Unit y...