1946, Satu
tahun pasca Kemerdekaan Republik Indonesia di proklamirkan oleh Presiden
Soekarno dan Bung Hatta.
Genderang
perang melawan penjajah masih belum usai ditabuh oleh bangsa ini. tahun ini
merupakan masa yang syarat dengan gejolak khususnya di wilayah Cimahi dan
Batujajar.
Untuk
menyelamatkan diri dan keluarga pada situasi perang yang masih berkecambuk saat
itu, hampir semua penduduk di wilayah
Cimahi dan Batujajar saat itu mengungsi ke wilayah Cililin, Gunung Halu,
Majalaya dan beberapa tempat lainnya di selatan Bandung.
Kemudian memasuki tahun 1947 ketika suhu perang mulai menurun, wargapun perlahan mulai kembali dari pengungsian ke kampungnya masing-masing, dan beraktifitas kembali seperti semula.
Terkecuali
kelompok pemuda yang tergabung dalam TKR dan laskar-laskar perjuangan.
Para pemuda ini
memilih untuk tetap bertahan di basisnya menyokong kekuatan Batalyon 22 yang
dipimpin oleh Kapten Sugiharto.
Kemudian saat
itu kelompok pemuda membuat satu kekuatan dan mulai menyusup masuk ke Cimahi
dengan tugas spionase, kemudian bergabung dengan pemuda lainnya di Cibeber yang
kemudian membentuk Gerilya Kota.
Pemuda Gerilya
Kota ini memiliki misi untuk menghimpun berbagai kekuatan seperti keuangan,
obat-obatan, senjata dan amunisi untuk mensuport perjuangan bersama Batalyon 22
dalam melakukan perlawanan fisik terhadap penjajah belanda.
Maka mulailah
kelompok pemuda ini bergerak ke beberapa kantong-kantong kekuatan yang dimotori
oleh pemuda-pemuda di wilayah Cimahi.
Diantaranya
dalam menghimpun obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya, kelompok ini menjalin
kerjasama dengan pemuda Baros seperti Amir Sawer, Amir Hudaya, Rukman dan Umara
yang saat itu bekerja di Militair Ziekenhuis (RS Dustira sekarang).
Kemudian dalam
menggalang dana untuk kebutuhan perang kelompok pemuda ini menjalin relasi
dengan guru-guru di wilayah Cimahi yang dikoordinir oleh Pak Sasmita Sonjaya (yang
bermukim di Jl. Pabrik Aci dekat SDN Cimahi Mandiri 1 sekarang). Yang melahirkan Gerakan Indonesia Muda yang
anggotanya adalah para guru republiken, yang dengan sukarela mengumpulkan uang
untuk diserahkan kepada Pemuda Gerilya
Kota ini.
Dalam
mengumpulkan amunisi dan seragam menjalin kekuatan dengan para pegawai yang
bekerja di tangsi-tangsi NICA, diantaranya
seperti dengan Pak Wagio yang tinggal di Gg. Lupen (Jln. H Haris-Baros
sekarang).
Dan dari beliau
inilah kelompok pemuda ini memperoleh amunisi dan seragam KNIL.
Perjuangan
keras dan senyap dari para pemuda ini dalam mengumpulkan dana dan logistik ini
selanjutnya diserahkan untuk modal perjuangan kepada Batalyon 22, yang dikirim
melalui kurir menyebrang sungai Citarum ke arah Cipatik, kemudian ke Cililin ke
markas Batalyon di Gunung Halu.
Sesuai perintah Panglima Divisi Siliwangi, Batalyon 22 sampai tahun 1949 tetap bergerilya di wilayah Cililin sekitarnya dengan resiko jika tertangkap akan diperlakukan sebagai perusuh/garong.
Operasi Gerilyawan
Kota dari Cibeber ini bukan tanpa resiko, mereka harus bisa menyelinap masuk ke
dalam pusat pasukan Belanda di tangsi Baros dengan cara2 spionase dan
menggunakan jaringan informasi yg penuh risiko, hingga suatu hari Amir Sawer
tertangkap oleh ID (Inlichting Dienst) dan di tawan di LOG Bandung (penjara
Sukamiskin sekarang) kemudian dikirim ke Nusakambangan sampai penyerahan
kedaulatan NKRI kembali pada tahun 1949.
Demikian
penggalan cerita yang dimuat dalam buku Prahara Cimahi dan Long March Siliwangi
yang saya kutip, dari Buku Prahara Cimahi karya SM Arief, dan Buku Long March
Siliwangi karya Himawan Sutanto.
Yang menarik
serta menjadi substansi pada literatur sederhana ini adalah pesan dan spirit
untuk generasi muda yang disampaikan dalam buku ini. Bagaimana kekuatan yang
dibangun oleh kelompok pemuda dalam mendukung pihak militer untuk memperjuangkan
kemerdekaan NKRI.
Kemudian
kemampuan kelompok pemuda dalam mengsinergikan potensi guru, pegawai rumah
sakit bahkan orang kita yang bekerja di gudang senjata milik musuh sekalipun.
Ini menjadi sebuah konsep kolaborasi potensi apik nan luar biasa dalam sebuah
bingkai perjuangan dalam mempertahankan kedaulatan.
Ini sebuah
karya dan kiprah nyata di masa kemerdekaan dari kelompok pemuda, yang mungkin
salah satunya bisa jadi adalah orang tua kita.
Konsep ini
seyogyanya merupakan sebuah semangat
yang harus ditransformasikan kepada generasi era kini dan berikutnya
dalam sebuah perjuangan yang sama di era yang berbeda.
Sudah barang
tentu jika melihat geliat semangat para pemuda di masa perjuangan, ini harus menjadi sebuah model bagi kita
dalam membangun negeri ini.
Model
sinergitas dan semangat mengkolaborasikan berbagai kekuatan dan potensi
generasi pemuda pada prolog diatas sangat memungkinkan untuk diaplikasikan di
kampung yang kita cintai ini.
Ya....Haurngambang
sebagai bagian kecil dari NKRI namun
memiliki potensi dan kekuatan besar untuk membangun wilayahnya menjadi
lebih berkemajuan.
Jika generasi
generasi haurngambang era kini yang didominasi oleh generasi milenial mampu
mengeksploitasi semua sumber daya kedaerahan diwilayahnya, kemudian mengeksplor
dalam berbagai bentuk kegiatan bermanfaat dan strategis di wilayahnya, saya
yakin ini akan menjadi kontribusi besar dalam membangun kampung kita ini.
Dan ini hanya
bisa terealisasikan jika semua potensi lokal mampu bersinergi dan mensinergikan
diri dengan potensi lainnya; mulai dari pemerintah daerah (desa, kecamatan dan
kabupaten), tokoh pemuda, tokoh agama dan panutan masyarakat, entepreneur,
pendidik dan akademisi, aktivis kemasyarakatan, TNI, ASN, pers dan kekuatan
potensi lainnya.
Menjadi suatu
harapan besar bagi mayoritas warga Haurngambang, “apakah mungkin Karang Taruna
Gema Remaja 7 ini mampu menjadi wadah bagi pemuda dalam menggali dan
meberdayakan potensi lokalnya menjadi sebuat aset besar untuk memajukan
wilayahnya ???“.
Semoga ini
menjadi spirit dan motivasi bagi rekan-rekan aktivis di Gema Remaja Unit 7
untuk merealisasikan harapan besarnya kampung ini.
--ER--
Sumber Literasi
:
Buku Prahara
Cimahi_SM Arief
Buku Long March
Siliwangi_Himawan Sutanto

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan-kawan aktivis di Unit-7, semoga ini menjadi sebuah motivasi dan spirit untuk berbuat banyak hal dalam menggali potensi dilingkungannya dalam bingkai pengabdian terhadap masyarakat.
BalasHapus